KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmad, taufik dan
hidayah-nya kepada Ilahi sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul
” ANALISIS WACANA ”
Penulisan karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan atas
bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh
karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Muhammad Thohir SAg, M.Pd selaku dosen pengampu
yang telah membimbing kami dalam mengerjakan karya ilmiah ini. Serta semua
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini yang tidak
dapat kami sebutkan satu-persatu.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ilmiah
ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik maupun saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan demi menyempurnakan karya tulis ilmiah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Surabaya,
15 juni 2012
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata pengantar …………………………………………………………….. 2
Daftar isi ………………………………………………………………………. 3
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ……………………………… 5
1.2 Rumusan Masalah ……………………………………….. 5
1.3 Tujuan Masalah ………………………………………… 5
BAB II :
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Analisis Wacana ………………….
7
2.2
Pendekatan Dalam Analisis Wacana ……
8
2.3
Analisis Wacana Menurut AS Hikam …10
2.4
Analisis Wacana Pragmatik Kritis
……………………..12
2.5
Ranah Jelajah Pragmatis Kritis
…………………………12
2.6
Komponen Analisis Wacana
……………………………..13
2.7
Kelebihan Analisis Wacana
………………………………..14
2.8
Kelemahan Analisis Wacana
………………………………14
BAB III :
PENUTUP
3.1
Kesimpulan …………………………………………………. 16
3.2
Kritik dan Saran …………………………………………….
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
I.
Latar belakang Masalah
Dalam memahami wacana (naskah/teks) kita tak
dapat melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan ”realitas” di balik teks kita
memerlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan aspek
sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks. Untuk itu dalam makalah ini
kami mencoba menjelas bagaimana asal-usul dari wacana tersebut dan
factor-faktor yang mempengaruhinya
II.
Rumusan Masalah
1.
Bagian-bagian dari Analisis Wacana
2.
Kekurangan dan kelebihan Analisis
Wacana
3.
Pendekatan dalam Analisis Wacana
III.Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Memahami bagian-bagian dari
analisis wacana
2.
Mengetahui kekurangan dan
kelebihan Analisis Wacana
3.
Mengetahui pendekatan yang ada
dalam analisis wacana
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Analisis
Wacana
Daya
tarik analisis wacana berasal dari realisasi bahwa bahasa, tindakan, dan
pengetahuan tidak dapat dipisahkan. Wawasan terpenting, disampaikan oleh Austin
bahwa ujaran-ujaran merupakan tindakan (Austin, 1962)[1]. Sejumlah
tindakan tindakan hanya dapat dilakukan melalui bahasa (misalnya, meminta
maaf), sementara yang lain dapat dilakukan secara verbal maupun nonverbal
(misalnya mengancam). Selanjutnya, begitu kita mulai mengkaji bagaimana bahasa
dipakai dalam interaksi sosial. Jelas kiranya bahwa komunikasi tidak mungkin
terjadi tanpa adanya pengetahuan dan asumsi yang sama antara penutur dan
pendengar. Analisis wacana
(discourse analysis) dibahas oleh Harris melalui artikel Discourse
Analysis[2]. Dalam
artikel itu Harris membicarakan wacana iklan dengan menelaah hubungan antara
kalimat-kalimat yang menyusunnya dan kaitan antara teks dengan masyarakat dan
budaya[3].
Analisis wacana dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mengkaji organisasi wacana di atas tingkat kalimat atau klausa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa analisis wacana mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih besar seperti percakapan atau teks tulis. Di samping itu, analisis wacana juga mengkaji pemakaian bahasa dalam konteks sosial termasuk interaksi di antara penutur-penutur bahasa (Stubbs, 1984:1)[4]. Analisis wacana berusaha mencapai makna yang persis sama atau paling tidak sangat dekat dengan makna yang dimaksudkan oleh pembicara dalam wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis. Untuk mencapai tujuan itu, analisis wacana banyak menggunakan pola sosiolinguistik, suatu cabang ilmu bahasa yang menelaah bahasa di dalam masyarakat, piranti-piranti, serta temuan-temuannya yang penting (Kartomihardjo, 1992:1)[5]. Analisis wacana adalah penyelidikan atas apa yang memberi keruntunan wacana. Analisis wacana juga memanfaatkan hasil kajian pragmatik. Oleh karena itu, analisis wacana berupaya menafsirkan suatu wacana yang tidak terjangkau oleh semantik tertentu maupun sintaksis. Sebagai contoh, perhatikan ujaran berikut.
(1) Jangan dilipat.
(2) Rasanya seperti buka puasa
Ujaran (1) tertera pada sebuah amplop yang dikirim oleh sebuah instansi/dinas. Ujaran tersebut berfungsi sebagai peringatan kepada jasa pengiriman surat agar tidak melipat surat itu karena di dalamnya berisi sesuatu yang dapat rusak kalau dilipat, misalnya lembar jawaban UAN. Tulisan itu tidak disertai ujaran tambahan amplop surat ini. Walaupun demikian, pengirim surat tentunya maklum bahwa yang dimaksudkan ialah amplop itu, bukan amplop yang lain.
Ujaran (2) diucapkan oleh mahasiswa terundang yang sedang menghadapi berbagai jenis minuman dalam sebuah acara yang diadakan fakultas. Ujaran itu menunjukkan bahwa mahasiswa terundang sangat haus. Dia mengutarakannya dengan membandingkan situasi yang dialaminya pada saat itu dengan situasi ketika dia menjalani puasa. Pendengar yang sudah pernah merasakan hausnya saat puasa dan nikmatnya buka puasa mengetahui secara pasti apa yang dimaksudkan dalam ujaran itu.
Dari kedua contoh di atas diketahui bahwa ternyata kedua kalimat tersebut tidak lengkap. Meskipun demikian, kalimat (1) dapat dipahami karena adanya dukungan konteks terjadinya ujaran itu yang memungkinkan penafsiran lokal, sedangkan ujaran (2) dapat dipahami karena adanya “pengetahuan tentang dunia” yang sama disampaikan berdasarkan analogi
Analisis wacana dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mengkaji organisasi wacana di atas tingkat kalimat atau klausa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa analisis wacana mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih besar seperti percakapan atau teks tulis. Di samping itu, analisis wacana juga mengkaji pemakaian bahasa dalam konteks sosial termasuk interaksi di antara penutur-penutur bahasa (Stubbs, 1984:1)[4]. Analisis wacana berusaha mencapai makna yang persis sama atau paling tidak sangat dekat dengan makna yang dimaksudkan oleh pembicara dalam wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis. Untuk mencapai tujuan itu, analisis wacana banyak menggunakan pola sosiolinguistik, suatu cabang ilmu bahasa yang menelaah bahasa di dalam masyarakat, piranti-piranti, serta temuan-temuannya yang penting (Kartomihardjo, 1992:1)[5]. Analisis wacana adalah penyelidikan atas apa yang memberi keruntunan wacana. Analisis wacana juga memanfaatkan hasil kajian pragmatik. Oleh karena itu, analisis wacana berupaya menafsirkan suatu wacana yang tidak terjangkau oleh semantik tertentu maupun sintaksis. Sebagai contoh, perhatikan ujaran berikut.
(1) Jangan dilipat.
(2) Rasanya seperti buka puasa
Ujaran (1) tertera pada sebuah amplop yang dikirim oleh sebuah instansi/dinas. Ujaran tersebut berfungsi sebagai peringatan kepada jasa pengiriman surat agar tidak melipat surat itu karena di dalamnya berisi sesuatu yang dapat rusak kalau dilipat, misalnya lembar jawaban UAN. Tulisan itu tidak disertai ujaran tambahan amplop surat ini. Walaupun demikian, pengirim surat tentunya maklum bahwa yang dimaksudkan ialah amplop itu, bukan amplop yang lain.
Ujaran (2) diucapkan oleh mahasiswa terundang yang sedang menghadapi berbagai jenis minuman dalam sebuah acara yang diadakan fakultas. Ujaran itu menunjukkan bahwa mahasiswa terundang sangat haus. Dia mengutarakannya dengan membandingkan situasi yang dialaminya pada saat itu dengan situasi ketika dia menjalani puasa. Pendengar yang sudah pernah merasakan hausnya saat puasa dan nikmatnya buka puasa mengetahui secara pasti apa yang dimaksudkan dalam ujaran itu.
Dari kedua contoh di atas diketahui bahwa ternyata kedua kalimat tersebut tidak lengkap. Meskipun demikian, kalimat (1) dapat dipahami karena adanya dukungan konteks terjadinya ujaran itu yang memungkinkan penafsiran lokal, sedangkan ujaran (2) dapat dipahami karena adanya “pengetahuan tentang dunia” yang sama disampaikan berdasarkan analogi
B.
Pendekatan dalam Analisis Wacana
a.
Pendekatan Formal
Pendekatan
formal adalah pendekatan yang lebih mengutamakan keakuratan dan kesistematisan.
Sehingga pendekatan formal dalam analisis wacana adalah pendekatan yang
menitiberatkan pada analisis teks sebuah wacana. Hal ini sesuai dengan
pandangan Pandangan kaum Positivisme-Empiris. Oleh penganut aliran ini, bahwa
bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dari
dirinya. Pengalaman- pengalaman manusia dianggap secara langsung diekspresikan
melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala atau distorsi, sejauh ia dinyatakan
dengan memakai pernyataan-pernyataan logis, sintaksis dan memiliki hubungan
dengan pengalaman empiris dan salah satu ciri dari pemikiran ini adalah
pemisahan antara pemikiran dan realitas. Dalam kaitannya dengan analisis wacana
konsekuensi logis dari pemahaman ini adalah orang tidak perlu memahami
makna-makna subjektif atau nilai yang mendasari pernyataannya, sebab yang
paling penting adalah apakah pernyataan itu dilontarkan secara benar menurut
kaidah sintaksis dan semantic. Oleh karena itu, tata bahasa, kebenaran
sintaksis adalah bidang utama dari aliran positivisme-empiris tentang wacana.
Analisis wacana dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa,
dan pengertian bersama. Wacana lantas diukur dengan pertimbangan
kebenaran/ketidakbenaran (menurut sintaksis dan sematik).
b.
.Pendekatan Kritis
Pendekatan
kritis adalah pendekatan yang tidak hanya memperhatikan tentang kebenaran dan
ketidakbenaran struktur sebuah wacana menurut kaidah sintaksis atau semantik,
melainkan juga memperhatikan faktor-faktor lain diluar struktur teks. Hal ini
didasari oleh pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan
pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi
makna. Individu tidak dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafsirkan
secara bebas sesuai dengan pikirannya, karena sangat berhubungan dan
dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat dan bahasa disini
tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri sipembicara.
Bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai representasi (penggambaran dari
pengalaman) yang berperan dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema wacana
tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana
dipakai untuk membongkar kuasa yang ada di dalam setiap proses bahasa :
batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti
dipakai, dan topik apa yang dibicarakan. Dengan pandangan semacam ini, wacana
melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam
membentuk subjek, dan berbagai tindakan yang
terdapat dalam masyarakat. Karena memakai perspektif kritis, Analisis wacana
itu juga disebut Analisis Wacana kritis (Critical Discourse Analysis).
Sementara itu, Asher dan Simpson[6] membagi
pendekatan dalam analisis wacana menjadi tiga, yaitu
a)pendekatan
formal,
b)
pendekatan sosiologis-empiris,
c)pendekatan
kritis.
Pendekatan formal memahami wacana sebagai tataran kebahasaan yang
lebih tinggi dari kalimat. Pendekatan formal mengkaji wacana dari segi jenis,
struktur, dan hubungan bagian-bagiannya.
Pendekatan sosiologis-empiris memahami wacana sebagai peristiwa
tutur yang terikat konteks situasi (Asher dan Simpson, 1994:940)[7].
Pendekatan ini mengkaji wacana dalam kaitannya dengan konteks situasi secara
pragmatis.
Pendekatan kritis
menempatkan wacana sebagai power (Asher dan Simpson, 1994: 940)[8]. Wacana
dipandang sebagai sebuah cerminan dari relasi kekuasaan dalam masyarakat
(Renkema, 2004:282)[9].
Pendekatan kritis (CDA) memahami wacana (lisan maupun tertulis) sebagai bentuk
praktik social[10]
C. Analisis wacana menurut Muhammad AS Hikam
Istilah analisis
wacana adalah istilah umum yang banyak dipakai oleh berbagai disiplin ilmu,
titik singgung dari analisis wacana adalah berhubungan dengan studi mengenai
bahasa dan penggunaan bahasa, Muhammad AS Hikam dalam tulisannya membahas
paradigma perbedaan analisis wacana diringkas sebagai berikut[11]
1.
Pandangan pertama
diwakili oleh kaum positivisme/empirisme:
Menurut mereka
bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek luar dirinya,
pengalaman-pengalaman manusia dianggap langsung bisa diekspresikan dengan
penggunaan bahasa tanpa ada kendala dan distorsi, salah satu ciri dari aliran
ini adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas, dalam kaitannya dengan
analisis wacana konsekwensi logis dari pemahaman ini adalah orang tidak perlu
memahami makna subjektif dari sebuah penyataan yang penting pernyataan itu
sesuai dengan kaidah semantic dan sintaksis, jadi kesimpulannya adalah wacana
diukur dari kebenaran sintaksis dan semantiknya.
2.
Pandangan yang
kedua disebut sebagai konstruktifisme
Pandangan ini
banyak dipengaruhi oleh pandangan fenomenologi, aliran ini menampikan pandangan
positivisme/empirisme yang memisahkan antara subjek dan objek bahasa dalam
pandangan konstruktifisme bahasa tidak lagi dilihat sebagai alat untuk memahami
realitas objek yang dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pernyataan,
konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai factor sentral dalam kegiatan
wacana serta hubungan sosialnya, dalam hal ini seperti yang dikatakan AS hikam
subjek memiliki kemampuan mengontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam
setiap wacana, cara untuk lebih memahami pandangan ini adalah dengan menempatkan diri
kita pada posisi pembicara
3.
Pandangan yang ketiga
disebut sebagai pandangan kritis
Pandangan ini
ingin mengkoreksi pandangan konstruktivisme yang kurang sensitive pada proses produksi dan reproduksi makna
yang terjadi secara historis dan institusional, seperti yang disampaikan AS
Hikam pandangan kontruktivisme masih belum menganalisis factor-faktor hubungan
kekuasaan yang inheren dalam setiap wacana yang pada gilirannya berperan
membentuk jenis subjek tertentu berikut perilaku-perilakunya, hal inilah yang
melahirkan paradigma kritis, analisis wacana tidak dipusatkan pada kebenaran
dan ketidakbenaran struktur tata bahasa atau proses penafsiran seperti pada
analisis konstruktivisme, analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada
konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reduksi makna,
individu tidak dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafsirkan secara
bebas sesuai dengan pikiran, karena sangat berhubungan dan dipengaruhi oleh
kekuatan social yang ada dalam masyarakat, bahasa disini tidak dipahami sebagai
medium netral yang terletak diluar diri si pembicara. Bahasa dalam pandangan
kritis dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subjek
tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun setrategi didalamnya, oleh karena
itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses
bahasa, dengan pandangan semacam ini, wacana melihat bahasa selalu terlibat
dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam pembentukan subjek, dan berbagai tindakan
representasi yang terdapat dalam masyarakat[12]
karena memakai perspektif kritis, analisis wacana yang kategori ketiga ini
disebut sebagai analisa kritis
D. Analisa wacana Pragmatik kritis
Dalam kajian pragmatik,
kata kita merupakan bentuk inklusif atau gabungan antara persona pertama
(aku, daku, saya) dan kedua (kamu, kau, dikau).
Namun, penjelasan semacam itu kurang mencukupi ketika deiksis persona kita ditemukan
dalam dua wacana tajuk editorial yang mengulas topik yang sama, tetapi
digunakan oleh koran berbeda.
Terkait
penggunaan kata kita dalam tajuk Republika dan Suara Pembaruan
(10/11/2008) yang mengangkat topik eksekusi mati pelaku Bom Bali I (Amrozi,
cs.), ada perbedaan jumlah penggunaan deiksis persona kita. Republika
menggunakan 19, sedangkan Suara Pembaruan hanya 4. Pragmatik tidak
dapat menjelaskan perbedaan tersebut, tetapi pragmatik kritis , mampu
menjelaskannya. Republika lebih banyak menggunakan kata kita untuk
membangun perspektif kita agar khalayak pembaca sama bersimpati kepada Amrozi,
dkk. Rasa simpati itu akan membentuk solidaritas dan kesepahaman bahwa Amrozi
dkk. bukan teroris. Mereka adalah bagian dari kita . Hal itu terkait ideologi
kedua harian sebagai koran umat Muslim (Republika) atau umat Kristen (Suara
Pembaruan).
E.
Ranah Jelajah Pragmatis Kritis
Tidak setiap wacana dapat dan perlu dianalisis dengan pragmatik
kritis . Ranah jelajahnya adalah wacana-wacana (penggunaan bahasa lisan maupun
tertulis) yang di dalamnya terkandung motif dan relasi kekuasaan dan motif
ideologi yang bisa berdampak luas. Wacana media massa (berita, tajuk, maupun
pojok), pidato pejabat, pernyataan politisi, dsb. sangat potensial menjadi data
kajian pragmatik kritis . Namun, perbincangan santai suami-istri di ruang
keluarga, dialog anak-anak yang sedang bermain bersama di halaman rumah, atau
surat elektronik sepasang kekasih atau beberapa orang sahabat lama, bukanlah
wacana yang cocok menjadi data kajian pragmatik kritis .
F.
Komponen
Analisis Wacana
1.
Kohesi dan koherensi dalam wacana merupakan salah satu unsur
pembangun wacana selain tema, konteks, unsur bahasa, dan maksud. Kohesi adalah
keserasian hubungan antara unsur-unsur yang satu dengan yang lain dalam wacana,
sehingga tercipta pengertian yang baik (Djajasudarma, 1994: 47). Kohesi dan
koherensi juga merupakan syarat terbentuknya suatu wacana selain syarat lain,
yaitu topik. Koherensi tidak
harus selalu dicapai dengan bantuan kohesi (Alwi et.al. dalam Hartono, 2000:
144). Akan tetapi, kohesi dapat merupakan pendukung terjadinya koherensi.
Kohesi adalah pertautan makna, sedangkan koherensi adalah keruntutan makna.
Kohesi harus dibedakan pada tingkat wacana (proposisi) dan teks (bentuk).
Koherensi hanya pada tingkat wacana. Koherensi ditentukan oleh kerangka acuan
wacana.
2.
Konsep Kohesi dalam Wacana
Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Kohesi juga merupakan organisasi sintaksis dan merupakan wadah bagi kalimat yang disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan (Tarigan, 1987: 96). Pengetahuan strata dan penguasaan kohesi yang baik memudahkan pemahaman tentang wacana. Wacana bernar-benar bersifat kohesif apabila terdapat kesesuaian secara bentuk bahasa terhadap konteks (James dalam Tarigan, 1987: 97).
Konsep kohesi mengacu pada hubungan bentuk. Artinya, unsur-unsur (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan yang padu dan utuh. Dengan kata lain, kohesi adalah aspek internal dari struktur wacana. Tarigan (1987: 96) menambahkan bahwa penelitian terhadap unsur kohesi adalah bagian dari kajian tentang aspek formal bahasa, dengan organisasi dan struktur kewacanaanya yang berkonsentrasi pada dan bersifat sintaksis gramatikal.
Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Kohesi juga merupakan organisasi sintaksis dan merupakan wadah bagi kalimat yang disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan (Tarigan, 1987: 96). Pengetahuan strata dan penguasaan kohesi yang baik memudahkan pemahaman tentang wacana. Wacana bernar-benar bersifat kohesif apabila terdapat kesesuaian secara bentuk bahasa terhadap konteks (James dalam Tarigan, 1987: 97).
Konsep kohesi mengacu pada hubungan bentuk. Artinya, unsur-unsur (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan yang padu dan utuh. Dengan kata lain, kohesi adalah aspek internal dari struktur wacana. Tarigan (1987: 96) menambahkan bahwa penelitian terhadap unsur kohesi adalah bagian dari kajian tentang aspek formal bahasa, dengan organisasi dan struktur kewacanaanya yang berkonsentrasi pada dan bersifat sintaksis gramatikal.
3.
Konsep Koherensi dalam Wacana
Menurut Pranowo (dalam Purwati, 2003: 21) koherensi adalah cara bagaimana komponen-komponen wacana yang berupa konfigurasi konsep dan hubungan menjadi relevan dan saling mengikat. Koherensi merupakan hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur yang membentuk kalimat itu, bagaimana hubungan antar subyek dan predikat, hubungan antara predikat dan obyek, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan unsur pokok tadi (Keraf dalam Purwati, 2003: 22).
Brown dan Yule (1986: 224) menegaskan bahwa koherensi berarti kepaduan dan keterpahaman antarsatuan dalam suatu teks atau tuturan. Pada dasarnya, hubungan koherensi adalah suatu rangkaian fakta dan gagasan yang teratur dan tersusun secara logis. Kajian mengenai koherensi dalam tataran analisis wacana merupakan hal mendasar dan relatif paling penting karena permasalahan pokok dalam analisis wacana adalah bagaimana mengungkapkan hubungan-hubungan yang rasional dan kaidah-kaidah tentang cara terbentuknya tuturan-tuturan yang koheren. Jadi, koherensi adalah kepaduan antar bagian secara batiniah. Bagian-bagian yang disebut proporsi tersebut membentuk jalinan semantik sehingga tersusun kesatuan makna yang utuh.[13]
Menurut Pranowo (dalam Purwati, 2003: 21) koherensi adalah cara bagaimana komponen-komponen wacana yang berupa konfigurasi konsep dan hubungan menjadi relevan dan saling mengikat. Koherensi merupakan hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur yang membentuk kalimat itu, bagaimana hubungan antar subyek dan predikat, hubungan antara predikat dan obyek, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan unsur pokok tadi (Keraf dalam Purwati, 2003: 22).
Brown dan Yule (1986: 224) menegaskan bahwa koherensi berarti kepaduan dan keterpahaman antarsatuan dalam suatu teks atau tuturan. Pada dasarnya, hubungan koherensi adalah suatu rangkaian fakta dan gagasan yang teratur dan tersusun secara logis. Kajian mengenai koherensi dalam tataran analisis wacana merupakan hal mendasar dan relatif paling penting karena permasalahan pokok dalam analisis wacana adalah bagaimana mengungkapkan hubungan-hubungan yang rasional dan kaidah-kaidah tentang cara terbentuknya tuturan-tuturan yang koheren. Jadi, koherensi adalah kepaduan antar bagian secara batiniah. Bagian-bagian yang disebut proporsi tersebut membentuk jalinan semantik sehingga tersusun kesatuan makna yang utuh.[13]
G. Kelebihan Analisis Wacana
a.
Analisis wacana dapat diterapkan pada setiap situasi dan setiap
subjek[14].
Perspektif baru yang disediakan oleh analisis wacana memungkinkan pertumbuhan pribadi tingkat tinggi pemenuhan kreatif dan dapat membimbing seseorang untuk dapat berfikir kritis.
Perspektif baru yang disediakan oleh analisis wacana memungkinkan pertumbuhan pribadi tingkat tinggi pemenuhan kreatif dan dapat membimbing seseorang untuk dapat berfikir kritis.
b.
Analisis wacana mampu memberikan kemanfaatan yang tak sedikit
kepada perubahan sosial termasuk di dalamnya saling pemahaman dalam hubungan
antar bangsa. Di samping signifikansi sosial tersebut, penggunaan analisis
wacana setidak-tidaknya menyadarkan para penafsir naskah untuk lebih
bertanggung jawab atas “bacaan” yang dilakukannya, tidak semata-mata didasarkan
atas pendapat pribadi melainkan dipandu oleh prinsip-prinsip metodologi
penelitian secara konsisten dan bertanggung jawab[15].
E. Kelemahan Analisis Wacana
1. Analisis Wacana
tidak memberikan jawaban yang pasti, tetapi akan menghasilkan wawasan atau
pengetahuan yang didasarkan pada perdebatan dan argumentasi terus-menerus.
2. Dalam
menafsirkan suatu wacana tidak hanya dipertemukan pada masalah kebahasaan, tetapi juga
dihadapkan pada problematika sosial, sehingga dalam memahaminya kita agak
menemui kesulitan.
3. Pemaknaan semakin rumit karena sebagai bagian dari metode
penelitian sosial dengan pendekatan
kualitatif, analisisis wacana ini juga memakai paradigma penelitian. Dengan
demikian proses penelitiannya tidak hanya berusaha memahami makna yang terdapat
dalam sebuah naskah, melainkan seringkali menggali apa yang terdapat di balik
naskah menurut paradigma penelitian yang dipergunakan.
BAB III
KESIMPULAN
Analisis wacana dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mengkaji
organisasi wacana di atas tingkat kalimat atau klausa. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa analisis wacana mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih
besar seperti percakapan atau teks tulis. Di samping itu, analisis wacana juga
mengkaji pemakaian bahasa dalam konteks sosial termasuk interaksi di antara
penutur-penutur bahasa, Analisis wacana
berusaha mencapai makna yang persis sama atau paling tidak sangat dekat dengan
makna yang dimaksudkan oleh pembicara dalam wacana lisan. Untuk mencapai tujuan
itu, analisis wacana banyak menggunakan pola sosiolinguistik, suatu cabang ilmu
bahasa yang menelaah bahasa di dalam masyarakat Analisis wacana juga memanfaatkan
hasil kajian pragmatik. Analisis wacana berupaya menafsirkan suatu wacana yang
tidak terjangkau oleh semantik tertentu maupun sintaksis dengan menggunakan
Daftar Pustaka
·
Austin, J.L.
1962. How to Do Things with Words. Cambridge: Harvard University Press.
·
Jurnal Language,
No. 28/1952, 1-30
·
Renkema, Jan.
2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam/Philadelphia: John
BenjaminPublishing Company
·
Stubbs,
Michael. 1984. Discourse Analisis: The Sociolinguistic Analisis of Language.
Oxford: Basil Blackwell Publisher.
·
Kartomihardjo,
Soeseno. 1989. Penggunaan Bahasa dalam Masyarakat.
Prasaran disampaikan dalam pertemuan Ilmiah MLI Regional Jawa Timur.
Malang: IKIP Malang. 20-21 Oktober.
·
Asher, R.E. dan
J.M.Y. Simpson, eds. 1994. The Encyclopedia of Language and Linguistics,
Volume 2.Oxford: Pergamon Press
·
Development .
Dalam R. Wodak & M. Meyer (eds.). 2006. Methods of Critical Discourse
Analysis. London
·
Muhammad AS
Hikam, Bahasa dan Politik, Bandung Mizan 1996
·
http://www.eamonfulcher.com/discourse_analysis.html didownload pada
[3] Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam/Philadelphia:
John BenjaminPublishing Company Hal 7
[4] Stubbs,
Michael. 1984. Discourse Analisis: The Sociolinguistic Analisis of Language.
Oxford: Basil Blackwell Publisher. Hal 47
[5] Kartomihardjo,
Soeseno. 1989. Penggunaan Bahasa dalam Masyarakat. Prasaran disampaikan
dalam pertemuan Ilmiah MLI Regional Jawa Timur. Malang: IKIP
Malang. 20-21 Oktober.
[7] Asher, R.E. dan J.M.Y. Simpson, eds. 1994. The Encyclopedia of
Language and Linguistics, Volume 2.Oxford: Pergamon Press
[10] Development . Dalam R. Wodak & M. Meyer
(eds.). 2006. Methods of Critical Discourse Analysis. London: Sage, hlm.
1-13
[13] Lihat:(http://inzulyn.blogsport.com//2010/12/makalah-analisis-wacana.html) (selasa/25 mei 2012)
[14] http://www.eamonfulcher.com/discourse_analysis.html didownload
pada 22:48
Tidak ada komentar:
Posting Komentar