Selasa, 10 Juli 2012

Makalah Ilmu Lughah Al-Tatbiqi






KATA PENGANTAR

            Assalamu’alaikum Wr. Wb.
         Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmad, taufik dan hidayah-nya kepada Ilahi sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
” ANALISIS WACANA ”
Penulisan karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan atas bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Muhammad Thohir SAg, M.Pd selaku dosen pengampu yang telah membimbing kami dalam mengerjakan karya ilmiah ini. Serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik maupun saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi menyempurnakan karya tulis ilmiah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

                                                                                           Surabaya, 15 juni 2012



                                                                                                     Penyusun   




DAFTAR ISI

Kata pengantar           …………………………………………………………….. 2
Daftar isi       ………………………………………………………………………. 3
BAB I                : PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah         ……………………………… 5
1.2  Rumusan Masalah     ……………………………………….. 5
1.3  Tujuan Masalah       ………………………………………… 5
BAB II               : PEMBAHASAN
                           2.1 Pengertian Analisis Wacana                      …………………. 7
                           2.2 Pendekatan Dalam Analisis Wacana                             …… 8
                           2.3 Analisis Wacana Menurut AS Hikam                               …10
                           2.4 Analisis Wacana Pragmatik Kritis     ……………………..12
                           2.5 Ranah Jelajah Pragmatis Kritis    …………………………12
                           2.6 Komponen Analisis Wacana    ……………………………..13
                           2.7 Kelebihan Analisis Wacana  ………………………………..14
                           2.8 Kelemahan Analisis Wacana   ………………………………14
BAB III             : PENUTUP
                           3.1 Kesimpulan …………………………………………………. 16
                           3.2 Kritik dan Saran    …………………………………………….
Daftar Pustaka


                                     








BAB I
PENDAHULUAN

       I.            Latar belakang Masalah
Dalam memahami wacana (naskah/teks) kita tak dapat melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan ”realitas” di balik teks kita memerlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks. Untuk itu dalam makalah ini kami mencoba menjelas bagaimana asal-usul dari wacana tersebut dan factor-faktor yang mempengaruhinya
    II.            Rumusan Masalah
1.      Bagian-bagian dari Analisis Wacana
2.      Kekurangan dan kelebihan Analisis Wacana
3.      Pendekatan dalam Analisis Wacana
 III.Tujuan Penulisan
               Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Memahami bagian-bagian dari analisis wacana
2.      Mengetahui kekurangan dan kelebihan Analisis Wacana
3.      Mengetahui pendekatan yang ada dalam analisis wacana




BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Analisis Wacana
 Daya tarik analisis wacana berasal dari realisasi bahwa bahasa, tindakan, dan pengetahuan tidak dapat dipisahkan. Wawasan terpenting, disampaikan oleh Austin bahwa ujaran-ujaran merupakan tindakan (Austin, 1962)[1]. Sejumlah tindakan tindakan hanya dapat dilakukan melalui bahasa (misalnya, meminta maaf), sementara yang lain dapat dilakukan secara verbal maupun nonverbal (misalnya mengancam). Selanjutnya, begitu kita mulai mengkaji bagaimana bahasa dipakai dalam interaksi sosial. Jelas kiranya bahwa komunikasi tidak mungkin terjadi tanpa adanya pengetahuan dan asumsi yang sama antara penutur dan pendengar. Analisis wacana (discourse analysis) dibahas oleh Harris melalui artikel Discourse Analysis[2]. Dalam artikel itu Harris membicarakan wacana iklan dengan menelaah hubungan antara kalimat-kalimat yang menyusunnya dan kaitan antara teks dengan masyarakat dan budaya[3].       
            Analisis wacana dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mengkaji organisasi wacana di atas tingkat kalimat atau klausa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa analisis wacana mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih besar seperti percakapan atau teks tulis. Di samping itu, analisis wacana juga mengkaji pemakaian bahasa dalam konteks sosial termasuk interaksi di antara penutur-penutur bahasa (Stubbs, 1984:1)[4]. Analisis wacana berusaha mencapai makna yang persis sama atau paling tidak sangat dekat dengan makna yang dimaksudkan oleh pembicara dalam wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis. Untuk mencapai tujuan itu, analisis wacana banyak menggunakan pola sosiolinguistik, suatu cabang ilmu bahasa yang menelaah bahasa di dalam masyarakat, piranti-piranti, serta temuan-temuannya yang penting (Kartomihardjo, 1992:1)[5]. Analisis wacana adalah penyelidikan atas apa yang memberi keruntunan wacana. Analisis wacana juga memanfaatkan hasil kajian pragmatik. Oleh karena itu, analisis wacana berupaya menafsirkan suatu wacana yang tidak terjangkau oleh semantik tertentu maupun sintaksis. Sebagai contoh, perhatikan ujaran berikut.
       
    (1) Jangan dilipat.               
    (2) Rasanya seperti buka puasa      
            Ujaran (1) tertera pada sebuah amplop yang dikirim oleh sebuah instansi/dinas. Ujaran tersebut berfungsi sebagai peringatan kepada jasa pengiriman surat agar tidak melipat surat itu karena di dalamnya berisi sesuatu yang dapat rusak kalau dilipat, misalnya lembar jawaban UAN. Tulisan itu tidak disertai ujaran tambahan amplop surat ini. Walaupun demikian, pengirim surat tentunya maklum bahwa yang dimaksudkan ialah amplop itu, bukan amplop yang lain.     
            Ujaran (2) diucapkan oleh mahasiswa terundang yang sedang menghadapi berbagai jenis minuman dalam sebuah acara yang diadakan fakultas. Ujaran itu menunjukkan bahwa mahasiswa terundang sangat haus. Dia mengutarakannya dengan membandingkan situasi yang dialaminya pada saat itu dengan situasi ketika dia menjalani puasa. Pendengar yang sudah pernah merasakan hausnya saat puasa dan nikmatnya buka puasa mengetahui secara pasti apa yang dimaksudkan dalam ujaran itu.      
            Dari kedua contoh di atas diketahui bahwa ternyata kedua kalimat tersebut tidak lengkap. Meskipun demikian, kalimat (1) dapat dipahami karena adanya dukungan konteks terjadinya ujaran itu yang memungkinkan penafsiran lokal, sedangkan ujaran (2) dapat dipahami karena adanya “pengetahuan tentang dunia” yang sama disampaikan berdasarkan analogi
B.     Pendekatan dalam Analisis Wacana
a.       Pendekatan Formal
Pendekatan formal adalah pendekatan yang lebih mengutamakan keakuratan dan kesistematisan. Sehingga pendekatan formal dalam analisis wacana adalah pendekatan yang menitiberatkan pada analisis teks sebuah wacana. Hal ini sesuai dengan pandangan Pandangan kaum Positivisme-Empiris. Oleh penganut aliran ini, bahwa bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dari dirinya. Pengalaman- pengalaman manusia dianggap secara langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala atau distorsi, sejauh ia dinyatakan dengan memakai pernyataan-pernyataan logis, sintaksis dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris dan salah satu ciri dari pemikiran ini adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas. Dalam kaitannya dengan analisis wacana konsekuensi logis dari pemahaman ini adalah orang tidak perlu memahami makna-makna subjektif atau nilai yang mendasari pernyataannya, sebab yang paling penting adalah apakah pernyataan itu dilontarkan secara benar menurut kaidah sintaksis dan semantic. Oleh karena itu, tata bahasa, kebenaran sintaksis adalah bidang utama dari aliran positivisme-empiris tentang wacana. Analisis wacana dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana lantas diukur dengan pertimbangan kebenaran/ketidakbenaran (menurut sintaksis dan sematik).
b.      .Pendekatan Kritis
Pendekatan kritis adalah pendekatan yang tidak hanya memperhatikan tentang kebenaran dan ketidakbenaran struktur sebuah wacana menurut kaidah sintaksis atau semantik, melainkan juga memperhatikan faktor-faktor lain diluar struktur teks. Hal ini didasari oleh pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Individu tidak dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai dengan pikirannya, karena sangat berhubungan dan dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat dan bahasa disini tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri sipembicara. Bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai representasi (penggambaran dari pengalaman) yang berperan dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada di dalam setiap proses bahasa : batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, dan topik apa yang dibicarakan. Dengan pandangan semacam ini, wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam membentuk subjek, dan berbagai tindakan yang terdapat dalam masyarakat. Karena memakai perspektif kritis, Analisis wacana itu juga disebut Analisis Wacana kritis (Critical Discourse Analysis).
Sementara itu, Asher dan Simpson[6] membagi pendekatan dalam analisis wacana menjadi tiga, yaitu
a)pendekatan formal,
b)                        pendekatan sosiologis-empiris,
c)pendekatan kritis.                                                                   
     Pendekatan formal memahami wacana sebagai tataran kebahasaan yang lebih tinggi dari kalimat. Pendekatan formal mengkaji wacana dari segi jenis, struktur, dan hubungan bagian-bagiannya.
Pendekatan sosiologis-empiris memahami wacana sebagai peristiwa tutur yang terikat konteks situasi (Asher dan Simpson, 1994:940)[7]. Pendekatan ini mengkaji wacana dalam kaitannya dengan konteks situasi secara pragmatis.
      Pendekatan kritis menempatkan wacana sebagai power (Asher dan Simpson, 1994: 940)[8]. Wacana dipandang sebagai sebuah cerminan dari relasi kekuasaan dalam masyarakat (Renkema, 2004:282)[9]. Pendekatan kritis (CDA) memahami wacana (lisan maupun tertulis) sebagai bentuk praktik social[10]
C.  Analisis wacana menurut Muhammad AS Hikam
Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang banyak dipakai oleh berbagai disiplin ilmu, titik singgung dari analisis wacana adalah berhubungan dengan studi mengenai bahasa dan penggunaan bahasa, Muhammad AS Hikam dalam tulisannya membahas paradigma perbedaan analisis wacana diringkas sebagai berikut[11]
1.    Pandangan pertama diwakili oleh kaum positivisme/empirisme:
Menurut mereka bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek luar dirinya, pengalaman-pengalaman manusia dianggap langsung bisa diekspresikan dengan penggunaan bahasa tanpa ada kendala dan distorsi, salah satu ciri dari aliran ini adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas, dalam kaitannya dengan analisis wacana konsekwensi logis dari pemahaman ini adalah orang tidak perlu memahami makna subjektif dari sebuah penyataan yang penting pernyataan itu sesuai dengan kaidah semantic dan sintaksis, jadi kesimpulannya adalah wacana diukur dari kebenaran sintaksis dan semantiknya.
2.    Pandangan yang kedua disebut sebagai konstruktifisme
Pandangan ini banyak dipengaruhi oleh pandangan fenomenologi, aliran ini menampikan pandangan positivisme/empirisme yang memisahkan antara subjek dan objek bahasa dalam pandangan konstruktifisme bahasa tidak lagi dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objek yang dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pernyataan, konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai factor sentral dalam kegiatan wacana serta hubungan sosialnya, dalam hal ini seperti yang dikatakan AS hikam subjek memiliki kemampuan mengontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana, cara untuk lebih memahami  pandangan ini adalah dengan menempatkan diri kita pada posisi pembicara
3.    Pandangan yang ketiga disebut sebagai pandangan kritis
Pandangan ini ingin mengkoreksi pandangan konstruktivisme yang kurang sensitive  pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis dan institusional, seperti yang disampaikan AS Hikam pandangan kontruktivisme masih belum menganalisis factor-faktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap wacana yang pada gilirannya berperan membentuk jenis subjek tertentu berikut perilaku-perilakunya, hal inilah yang melahirkan paradigma kritis, analisis wacana tidak dipusatkan pada kebenaran dan ketidakbenaran struktur tata bahasa atau proses penafsiran seperti pada analisis konstruktivisme, analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reduksi makna, individu tidak dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai dengan pikiran, karena sangat berhubungan dan dipengaruhi oleh kekuatan social yang ada dalam masyarakat, bahasa disini tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak diluar diri si pembicara. Bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun setrategi didalamnya, oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa, dengan pandangan semacam ini, wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam pembentukan subjek, dan berbagai tindakan representasi yang terdapat dalam masyarakat[12] karena memakai perspektif kritis, analisis wacana yang kategori ketiga ini disebut sebagai analisa kritis
D.    Analisa wacana Pragmatik kritis
     Dalam kajian pragmatik, kata kita merupakan bentuk inklusif atau gabungan antara persona pertama (aku, daku, saya) dan kedua (kamu, kau, dikau). Namun, penjelasan semacam itu kurang mencukupi ketika deiksis persona kita ditemukan dalam dua wacana tajuk editorial yang mengulas topik yang sama, tetapi digunakan oleh koran berbeda.
Terkait penggunaan kata kita dalam tajuk Republika dan Suara Pembaruan (10/11/2008) yang mengangkat topik eksekusi mati pelaku Bom Bali I (Amrozi, cs.), ada perbedaan jumlah penggunaan deiksis persona kita. Republika menggunakan 19, sedangkan Suara Pembaruan hanya 4. Pragmatik tidak dapat menjelaskan perbedaan tersebut, tetapi pragmatik kritis , mampu menjelaskannya. Republika lebih banyak menggunakan kata kita untuk membangun perspektif kita agar khalayak pembaca sama bersimpati kepada Amrozi, dkk. Rasa simpati itu akan membentuk solidaritas dan kesepahaman bahwa Amrozi dkk. bukan teroris. Mereka adalah bagian dari kita . Hal itu terkait ideologi kedua harian sebagai koran umat Muslim (Republika) atau umat Kristen (Suara Pembaruan).
E.     Ranah Jelajah Pragmatis Kritis
Tidak setiap wacana dapat dan perlu dianalisis dengan pragmatik kritis . Ranah jelajahnya adalah wacana-wacana (penggunaan bahasa lisan maupun tertulis) yang di dalamnya terkandung motif dan relasi kekuasaan dan motif ideologi yang bisa berdampak luas. Wacana media massa (berita, tajuk, maupun pojok), pidato pejabat, pernyataan politisi, dsb. sangat potensial menjadi data kajian pragmatik kritis . Namun, perbincangan santai suami-istri di ruang keluarga, dialog anak-anak yang sedang bermain bersama di halaman rumah, atau surat elektronik sepasang kekasih atau beberapa orang sahabat lama, bukanlah wacana yang cocok menjadi data kajian pragmatik kritis .




F.   Komponen Analisis Wacana
1.     Kohesi dan koherensi dalam wacana merupakan salah satu unsur pembangun wacana selain tema, konteks, unsur bahasa, dan maksud. Kohesi adalah keserasian hubungan antara unsur-unsur yang satu dengan yang lain dalam wacana, sehingga tercipta pengertian yang baik (Djajasudarma, 1994: 47). Kohesi dan koherensi juga merupakan syarat terbentuknya suatu wacana selain syarat lain, yaitu topik. Koherensi tidak harus selalu dicapai dengan bantuan kohesi (Alwi et.al. dalam Hartono, 2000: 144). Akan tetapi, kohesi dapat merupakan pendukung terjadinya koherensi. Kohesi adalah pertautan makna, sedangkan koherensi adalah keruntutan makna. Kohesi harus dibedakan pada tingkat wacana (proposisi) dan teks (bentuk). Koherensi hanya pada tingkat wacana. Koherensi ditentukan oleh kerangka acuan wacana.
2.    Konsep Kohesi dalam Wacana          
Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Kohesi juga merupakan organisasi sintaksis dan merupakan wadah bagi kalimat yang disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan (Tarigan, 1987: 96). Pengetahuan strata dan penguasaan kohesi yang baik memudahkan pemahaman tentang wacana. Wacana bernar-benar bersifat kohesif apabila terdapat kesesuaian secara bentuk bahasa terhadap konteks (James dalam Tarigan, 1987: 97).
       
Konsep kohesi mengacu pada hubungan bentuk. Artinya, unsur-unsur (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan yang padu dan utuh. Dengan kata lain, kohesi adalah aspek internal dari struktur wacana. Tarigan (1987: 96) menambahkan bahwa penelitian terhadap unsur kohesi adalah bagian dari kajian tentang aspek formal bahasa, dengan organisasi dan struktur kewacanaanya yang berkonsentrasi pada dan bersifat sintaksis gramatikal.
3.    Konsep Koherensi dalam Wacana     
Menurut Pranowo (dalam Purwati, 2003: 21) koherensi adalah cara bagaimana komponen-komponen wacana yang berupa konfigurasi konsep dan hubungan menjadi relevan dan saling mengikat. Koherensi merupakan hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur yang membentuk kalimat itu, bagaimana hubungan antar
subyek dan predikat, hubungan antara predikat dan obyek, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan unsur pokok tadi (Keraf dalam Purwati, 2003: 22).         
Brown dan Yule (1986: 224) menegaskan bahwa koherensi berarti kepaduan dan keterpahaman antarsatuan dalam suatu teks atau tuturan. Pada dasarnya, hubungan koherensi adalah suatu rangkaian fakta dan gagasan yang teratur dan tersusun secara logis.
Kajian mengenai koherensi dalam tataran analisis wacana merupakan hal mendasar dan relatif paling penting karena permasalahan pokok dalam analisis wacana adalah bagaimana mengungkapkan hubungan-hubungan yang rasional dan kaidah-kaidah tentang cara terbentuknya tuturan-tuturan yang koheren. Jadi, koherensi adalah kepaduan antar bagian secara batiniah. Bagian-bagian yang disebut proporsi tersebut membentuk jalinan semantik sehingga tersusun kesatuan makna yang utuh.[13]
G.   Kelebihan Analisis Wacana
a.     Analisis wacana dapat diterapkan pada setiap situasi dan setiap subjek[14].
Perspektif baru yang disediakan oleh analisis wacana memungkinkan pertumbuhan pribadi tingkat tinggi pemenuhan kreatif dan dapat membimbing seseorang untuk dapat berfikir kritis.
b.    Analisis wacana mampu memberikan kemanfaatan yang tak sedikit kepada perubahan sosial termasuk di dalamnya saling pemahaman dalam hubungan antar bangsa. Di samping signifikansi sosial tersebut, penggunaan analisis wacana setidak-tidaknya menyadarkan para penafsir naskah untuk lebih bertanggung jawab atas “bacaan” yang dilakukannya, tidak semata-mata didasarkan atas pendapat pribadi melainkan dipandu oleh prinsip-prinsip metodologi penelitian secara konsisten dan bertanggung  jawab[15].



E.     Kelemahan Analisis Wacana
1. Analisis Wacana tidak memberikan jawaban yang pasti, tetapi akan menghasilkan wawasan atau pengetahuan yang didasarkan pada perdebatan dan argumentasi terus-menerus.
 2.  Dalam menafsirkan suatu wacana tidak hanya dipertemukan pada masalah    kebahasaan, tetapi juga dihadapkan pada problematika sosial, sehingga dalam memahaminya kita agak menemui kesulitan.
3.  Pemaknaan semakin rumit karena sebagai bagian dari metode penelitian sosial dengan pendekatan kualitatif, analisisis wacana ini juga memakai paradigma penelitian. Dengan demikian proses penelitiannya tidak hanya berusaha memahami makna yang terdapat dalam sebuah naskah, melainkan seringkali menggali apa yang terdapat di balik naskah menurut paradigma penelitian yang dipergunakan.




BAB III
                                             KESIMPULAN
Analisis wacana dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mengkaji organisasi wacana di atas tingkat kalimat atau klausa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa analisis wacana mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih besar seperti percakapan atau teks tulis. Di samping itu, analisis wacana juga mengkaji pemakaian bahasa dalam konteks sosial termasuk interaksi di antara penutur-penutur bahasa,  Analisis wacana berusaha mencapai makna yang persis sama atau paling tidak sangat dekat dengan makna yang dimaksudkan oleh pembicara dalam wacana lisan. Untuk mencapai tujuan itu, analisis wacana banyak menggunakan pola sosiolinguistik, suatu cabang ilmu bahasa yang menelaah bahasa di dalam masyarakat Analisis wacana juga memanfaatkan hasil kajian pragmatik. Analisis wacana berupaya menafsirkan suatu wacana yang tidak terjangkau oleh semantik tertentu maupun sintaksis dengan menggunakan






Daftar Pustaka
·         Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. Cambridge: Harvard University Press.
·         Jurnal Language, No. 28/1952, 1-30
·         Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam/Philadelphia: John BenjaminPublishing Company
·         Stubbs, Michael. 1984. Discourse Analisis: The Sociolinguistic Analisis of Language.  Oxford: Basil Blackwell Publisher.
·         Kartomihardjo, Soeseno. 1989. Penggunaan Bahasa dalam Masyarakat. Prasaran  disampaikan dalam pertemuan Ilmiah MLI Regional Jawa Timur. Malang: IKIP   Malang. 20-21 Oktober.               
·         Asher, R.E. dan J.M.Y. Simpson, eds. 1994. The Encyclopedia of Language and Linguistics, Volume 2.Oxford: Pergamon Press
·         Development . Dalam R. Wodak & M. Meyer (eds.). 2006. Methods of Critical Discourse Analysis. London
·         Muhammad AS Hikam, Bahasa dan Politik, Bandung Mizan 1996
·         Lihat:(http://inzulyn.blogsport.com//2010/12/makalah-analisis-wacana.html) (selasa/25 mei 2012)
·         http://www.eamonfulcher.com/discourse_analysis.html didownload pada





[1] Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. Cambridge: Harvard University Press. Hal: 39
[2] dalam jurnal Language, No. 28/1952, 1-30
[3] Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam/Philadelphia: John BenjaminPublishing Company Hal 7
[4] Stubbs, Michael. 1984. Discourse Analisis: The Sociolinguistic Analisis of Language.  Oxford: Basil Blackwell Publisher. Hal 47
[5] Kartomihardjo, Soeseno. 1989. Penggunaan Bahasa dalam Masyarakat. Prasaran  disampaikan dalam pertemuan Ilmiah MLI Regional Jawa Timur. Malang: IKIP   Malang. 20-21 Oktober.
[6] , ibid, Renkema,. Hal  89
[7]  Asher, R.E. dan J.M.Y. Simpson, eds. 1994. The Encyclopedia of Language and Linguistics, Volume 2.Oxford: Pergamon Press
[8]Ibid, Asher, R.E, Hal 59
[9] Ibid, Renkema, hal 282
[10]  Development . Dalam R. Wodak & M. Meyer (eds.). 2006. Methods of Critical Discourse Analysis. London: Sage, hlm. 1-13
[11] Muhammad AS Hikam, Bahasa dan Politik, Bandung Mizan 1996, hal 78-86
[12] Muhammad AS Hikam ibid hal 85
[14] http://www.eamonfulcher.com/discourse_analysis.html didownload pada 22:48


Donwlod Makalah Lengkap Disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar