BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Tugas utama seorang guru adalah
menciptakan dan mempertahankan keadaan kelas yang kondusif dan menyenangkan
agar tercapainya pembelajaran yang efektif,
sesuai dengan program PAIKEMI ( Pendidikan Aktif, Inovatif, Kreatif,
Efektif, Menyenangkan dan Islami). sehingga
kemampuan seorang guru dituntut untuk harus terampil dalam mengajar
serta mempunyai teknik-teknik pengelolaan kelas yang baik.
Akan tetapi, untuk menuju pada
pengelolaan kelas yang baik terdapat hambatan-hambatan di dalamnya. Yaitu,
masalah-masalah individual siswa (karakteristik setiap siswa) serta masalah
sosial atau kelompok (perbedaan tingkatan sosial, permusuhan, dll ) yang harus
dihadapi oleh guru.
Oleh karena itu, dalam makalah ini
kami mencoba membahas tentang pengertian dari pengelolaan kelas, masalah
individu dan sosial di dalamnya, serta cara penanggulangan masalah-masalah
tersebut.
B. Rumusan
Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah
dalam uraia di atas, rumusan masalah yang akan dibahas ialah sebagai berikut:
1. Apa
pengertian pengelolaan kelas?
2. Apa
masalah individual yang terjadi dalam pengelolaan kelas?
3. Apa
masalah sosial atau kelompok yang terjadi dalam pengelolaan kelas?
4. Bagaimana
cara menanggulangi masalah-masalah individual dan sosial tersebut?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Pengelolaaan Kelas
Pengelolahan
kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang
kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.[1]
Dalam
pembelajaran di kelas, guru merupakan manajer. Dengan pengertian ini guru
adalah orang yang menjalankan tugasnya manajemen tentunya menekankan pada
keharusan adanya kemampuan yang harus dimilki guru dalam manajerial.
Kelas bukanlah
semata-mata suatu ruangan tempat belajar mengajar antara guru dengan siswa,
serta bukan hanya suatu bangunan fisik yang terdiri peralatan belajar mengajar.
Tetapi lebih dari itu, kelas merupakan suatu organisasi kecil yang unik dalam
pendidikan nasional. Dikatakan sebagai organisasi kecil karena walaupun lingkup
anggota dan struktur yang terbatas, tetapi kelas memiliki sifat umum
sebagaimana layaknya organisasi.
Prinsip-prinsip
yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah:[2]
1.
Kehangatan dan keantusiasan
Hangat dan antusias sangat diperlukan dalam proses belajar
mengajar. Guru yang hangat dan akrab dengan anak didik selalu menunjukkan
antusias pada tugas atau pada aktivitasnya akan berhasil dalam
mengimplementasikan pengelolahan kelas.
2.
Tantangan,
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang
akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar, sehingga mengurangi
kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
3.
Bervariasi,
Penggunaan alat atau media, atau alat bantu, gaya mengajar guru,
pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan,
dan meningkatkan perhatian anak didik. Kevariasian dalam penggunaan apa yang
telah disebutkan di atas merupakan kunci untuk tercapainya pengelolahan kelas
yang efektif dan menghindari kejenuhan.
4.
Luwes,
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya
dapat mencegah munculnya gangguan anak didik serta menciptakan iklim belajar
mengajar secara efektif. Keluwesan dapat mencegah munculnya gangguan seperti
keributan anak didik, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan
sebagainya.
5.
Penekanan pada hal positif,
Pada dasarnya mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal
yang positif dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang
negative.
6.
Penanaman disiplin diri,
Tujuan akhir dari pengelolahan kelas adalah anak didik dapat
mengembangkan disiplin diri sendiri.
a.
Tujuan pengajaran, merencanakan dan merumuskan tujuan instruksional
yang hendak dicapai.
b.
Waktu yang tersedia dalam jadwal untuk setiap pelajaran.
c.
Pengaturan ruang belajar dan perabot pelajaran di kelas.
d.
Pengaturan siswa dalam belajar (individu atau kelompok).
B. Masalah-masalah
Dalam Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi
yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. Dalam pengelolaan
kelas dapat terjadi masalah bersumber dari kondisi tempat belajar dan pelajar
yang terlibat dalam belajar Kondisi tempat belajar misalnya bisa berupa ruang
kotor, papan tulis rusak, meja kursi rusak, dan sebagainya dapat mengganggu
belajar[4].
Sedangkan masalah pembelajar di bagi menjadi dua, yaitu:
1.
Masalah Individu
Rudolf Dreiklurs dan Pearl Cassel membedakan
empat kelompok masalah pengelolaan kelas individual yang didasarkan asumsi
bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya pencapaian tujuan pemenuhan
keputusan untuk diterima kelompok dan kebutuhan untuk mencapai harga diri. Bila
kebutuhan-kebutuhan ini tidak lagi dapat dipenuhi malalui cara-cara yang lumrah
dapat diterima masyarakat, dalam hal ini masyarakat kelas, maka individu yang
bersangkutan akan berusaha mencapainya dengan cara lain.Dengan perkataan lain,
dia akan berbuat “tidak baik” perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan
cara tidak baik inilah oleh pasangan penulis diatas digolongkan sebagai berikut[5]:
a.
Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain (attentiongettingbehaviors).
Misal: membadut (aktif), atau serba lamban.
b.
Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (powerseekingbehaviors).
Misal: selalu mendebat, marah, menangis, lupa aturan.
c.
Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revengeseekingbehaviors).
Misal: mengata-ngatai, memukul.
d.
Peragaan ketidakmampuan:
Sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apapun, karena kegagalan yang
terjadi.
Untuk
membedakan keempat tipe di atas, dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap
gejala yang muncul. Dreikurs dan Cassel mengajukan satu teknik yang cukup
sederhana untuk mendeteksi gejala tersebut, dengan parameter sebagai berikut:
a. Jika guru merasa terganggu oleh tindakan murid, mungkin tujuan murid adalah untuk mencari perhatian.
b. Jika guru merasa dikalahkan atau terancam, tujuan murid tersebut mungkin untuk mencari kekuasaan.
c. Jika guru merasa sangat tersinggung, tujuannya mungkin untuk mencari pelampiasan dendam.
d.Jika guru merasa tidak berdaya, tujuan anak mungkin untuk menunjukkan ketidakmampuannya.
a. Jika guru merasa terganggu oleh tindakan murid, mungkin tujuan murid adalah untuk mencari perhatian.
b. Jika guru merasa dikalahkan atau terancam, tujuan murid tersebut mungkin untuk mencari kekuasaan.
c. Jika guru merasa sangat tersinggung, tujuannya mungkin untuk mencari pelampiasan dendam.
d.Jika guru merasa tidak berdaya, tujuan anak mungkin untuk menunjukkan ketidakmampuannya.
Menurut Manan
Rahman, (1998:58) dari keempat tindakan individu di atas sebagaimana
dikemukakan oleh Rodolf Dreikurs akan mengakibatkan terbentuknya empat pola
tingkah laku yang sering nampak pada anak usia sekolah yaitu:
1) Pola aktif konstruktif yaitu pola tingkah laku yang ekstrim, ambisius untuk menjadi superstar di kelasnya dan berusaha membantu guru dengan penuh vitalitas dan sepenuh hati.
2) Pola aktif destruktif yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk membuat banyolan, suka marah, kasar dan memberontak.
3) Pola pasif konstruktif yaitu pola yang menunjukkan kepada satu bentuk tingkah laku yang lamban dengan maksud supaya selalu dibantu dan mengharapkan perhatian.
4) Pola pasif destruktif yaitu pola tingkah laku yang menunjuk kemalasan (sifat malas) dan keras kepala.[6]
1) Pola aktif konstruktif yaitu pola tingkah laku yang ekstrim, ambisius untuk menjadi superstar di kelasnya dan berusaha membantu guru dengan penuh vitalitas dan sepenuh hati.
2) Pola aktif destruktif yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk membuat banyolan, suka marah, kasar dan memberontak.
3) Pola pasif konstruktif yaitu pola yang menunjukkan kepada satu bentuk tingkah laku yang lamban dengan maksud supaya selalu dibantu dan mengharapkan perhatian.
4) Pola pasif destruktif yaitu pola tingkah laku yang menunjuk kemalasan (sifat malas) dan keras kepala.[6]
Murid-murid
yang tidak bisa menaikkan statusnya dengan cara yang dapat diterima oleh
lingkungannya, biasanya akan mencari jalan lain, baik melalui tindakan untuk
menarik perhatian yang aktif maupun yang pasif.
1. Cara aktif : Bentuk mencari perhatian yang aktif bersifat merusak, misalnya
bergaya sok, melawak, mengacau, menjadi anak nakal, anak yang terus-menerus
bertanya atau ramai dikelas.
2. Cara Pasif : Bentuk pasif dalam mencari perhatian yang bersifat merusak
misalnya, pemaksaan atau ingin mendapatkan perhatian orang lain dengan meminta
tolong terus.
Pencari Kekuasaan
Perilaku untuk
mencari kekuasaan hampir sama dengan kasus tindakan di atas, namun sifatnya
lebih kuat yakni mencari perhatian yang sifatnya merusak.
1.
Pencari kekuasaan yang aktif biasanya suka membantah, berbohong,
pemukul, mempunyai watak pemarah, menolak perintah, dan benar-benar tidak mau
tunduk.
2. Pencari
kekuasaan yang pasif adalah orang yang kemalasannya sangat nyata, yang biasanya
tidak mau bekerja sama sekali. Murid seperti ini sangat pelupa, keras kepala,
dan tidak mau patuh.
Murid yang mencari pelampiasan dendam disebabkan putus asa dan bingung sehingga mencari keberhasilan dengan cara menyakiti orang lain, menyerang secara fisik (mencakar, memukul, menendang) bermusuhan dengan teman-temannya, memaksa dengan kekuasaan. Biasanya anak tersebut pelampiasannya lebih banyak secara aktif daripada secara pasif. Keaktifan mereka digambarkan sebagai anak yang kejam dan penuh kebencian, sedangkan mereka yang pasif digambarkan sebagai orang yang cemberut dan menantang.
Murid yang mencari pelampiasan dendam disebabkan putus asa dan bingung sehingga mencari keberhasilan dengan cara menyakiti orang lain, menyerang secara fisik (mencakar, memukul, menendang) bermusuhan dengan teman-temannya, memaksa dengan kekuasaan. Biasanya anak tersebut pelampiasannya lebih banyak secara aktif daripada secara pasif. Keaktifan mereka digambarkan sebagai anak yang kejam dan penuh kebencian, sedangkan mereka yang pasif digambarkan sebagai orang yang cemberut dan menantang.
Lebih lanjut
Dreikurs dan Cassel menegaskan bahwa guru harus dengan tepat mengidentifikasi
dan memahami tujuan tindakan anak sehingga secara efektif dapat dilakukan
penanganannya.
2.
Masalah sosial (kelompok)
Anak perlu
bergaul dengan teman lainya, di samping sebagai segi individu ia juga mempunyai
segi sosial yang perlu diperhatikan dan dikembangkan. Karena bekerja di dalam
kelompok dapat juga meningkatkan cara berpikir mereka sehingga dapat memecahkan
masalah dengan baik dan lancar.[7]
Dalam
perkembanganya setiap individu dalam kelompok pasti akan menjumpai problem atau
masalah dalam kelompok tersebut. Masalah kelompok akan muncul jika tidak
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kelompok, kelas akan jadi membosankan dan
akhirnya para siswa dalam kelompok bersikap pasif, acuh, tidak puas dan
belajarnya terganggu.
Ciri-ciri
kelompok menurut Lois U Johnson dan Marry A. Bany:
a.
Kesatuan kelompok
b.
Interaksi dan komunikasi
c.
Struktur kelompok
d.
Tujuan-tujuan kelompok
e.
Kontrol (hukum)
f.
Iklim kelompok
Jika kebutuhan
tersebut tidak dijumpai dalam kelompok maka akan timbul enam kategori masalah
kelompok dalam pengelolaan kelas. Masalah-masalah yang dimaksud adalah sebagai
berikut[8]:
a.
Kelas kurang kohesif, misalnya perbedaan jenis kelamin, suku dan
tingkatan sosio ekonomi dan sebaginya.
b.
Kelas mereaksi negatif terhadap salah satu anggotanya, misalnya,
mengejek anggota kelas yang dalam pengajaran seni suara, menyanyi dengan suara
sumbang.
c.
Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma
kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas.
d.
Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang
tengah digarap.
e.
Semangat kerja rendah, misalnya semacam aksi protes kepada guru
karena mengangap tugas yang diberikan kurang adil.
f.
Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru, misalnya
gangguan jadwal atau guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain, dan
sebagainya.
Sedangkan menurut Made Pidarta, masalah-masalah pengelolaan kelas
yang berhubungan dengan perilaku siswa pada garis besarnya adalah sebagai
berikut:
a.
Kurang kesatuan, dengan adanya kelompok-kelompok dan pertentangan
jenis kelamin.
b.
Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, misalnya rebut,
bercakap-cakap, pergi kesana-kemari dan lain sebagainya.
c.
Kelas mentoleransi kekeliruan-kekeliruan temanya, ialah menerima
dan mendorong perilaku siswa yang keliru.
d.
Mudah bereaksi negatif atau terganggu.
e.
Moral rendah, permusuhan, aggresif.
f.
Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah, seperti
annggota kelas baru dan situasi baru.
C.
Cara
Penanggulangan Masalah
Untuk menangkal dan menanggulangi kenakalan
anak tersebut perlu diketahui secara dini dan seksama tentang[9]:
a.
Penyebab-penyebabnya,
misalnya:
1)
Faktor
perkembangan jiwa pada periode puberitas.
2)
Lingkungan
keluarga yang broken home
3)
Lingkungan
sekolah yang menjemukan, kurang kreatif dan otoriter
4)
Lingkungan
masyarakat penuh spekulasi dan sebagainya.
b.
Gejala-gejalanya.
c.
Langkah yang
tepat untuk menangguanginya.
Kebijakan-kebijakan
yang dapat diambil untuk menangkal dan menanggulangi kenakalan anak dapat
dilakukan melalui Tri pusat pendidikan, yaitu dalam lingkungan sekolah atau
pendidikan formal, dan lingkungan sosial dan masyarakat.
Dalam
rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas dapat dipergunakan
prinsip-prinsip pengelolaan kelas. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah sebagai
berikut[10]:
a.
Hangat dan Antusias
Hangat dan Antusias diperlukan dalam
proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu
menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya.akan berhasil dalam
mengimplementasikan pengelolaan kelas
b.
Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara
kerja, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk
belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
c.
Bervariasi
Penggunaan alat atau media, gaya
mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi
munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswa. Kevariasian. ini merupakan
kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari
kejenuhan.
d.
Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk
mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan
siswa serta menciptakan iklim belajarmengajar yang efektif. Keluwesan
pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada
perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.
e.
Penekanan pada Hal-Hal yang Positif
Pada dasarnya dalam mengajar dan
mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari
pemusatan perhatian pada hal-hal yang negative. Penekanan pada hal-hal yang
positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yang
positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat
dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk
menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
f.
Penanaman Disiplin Diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas
adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin diri sendiri dan guru sendiri
hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab.
Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut
berdisiplin dalam segala hal.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
uraian pembahasan diatas, maka kami mengambil beberapa kesimpulan antara lain
sebagai berikut:
1.
Pengelolahan kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan
iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan
dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pengelolaan kelas; kehangatan dan
keantusiasan, tantangan, bervariasi, luwes, penekanan pada hal positif, penanaman
disiplin diri.
2.
Masalah-masalah dalam pengelolaan kelas meliputi;
a.
Masalah
individu: Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain (attentiongettingbehaviors).
Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (powerseekingbehaviors).
Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revengeseekingbehaviors).
Peragaan ketidakmampuan: Sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apapun,
karena kegagalan yang terjadi.
b.
Masalah sosial: Kelas kurang kohesif, kelas mereaksi negatif
terhadap salah satu anggotanya, membesarkan hati anggota kelas yang justru
melanggar norma kelompok, Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari
tugas yang tengah digarap, Semangat kerja rendah, Kelas kurang mampu
menyesuaikan diri dengan keadaan baru.
3.
Cara penanggulangan masalah;
a.
Mengetahui enyebab-penyebabnya,
misalnya: Faktor perkembangan jiwa pada periode puberitas, lingkungan keluarga
yang broken home, lingkungan sekolah yang menjemukan, kurang kreatif dan
otoriter, lingkungan masyarakat penuh spekulasi dan sebagainya.
b.
Gejala-gejalanya.
c.
Langkah yang
tepat untuk menangguanginya (kebijakan-kebijakan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar